JAKARTA - Upaya pemerintah meningkatkan kualitas gizi masyarakat terus diperkuat melalui berbagai program strategis.
Salah satu fokus utama adalah pemenuhan kebutuhan gizi bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Kelompok ini dinilai memiliki peran penting dalam menentukan kualitas generasi masa depan, sehingga pemenuhan nutrisi mereka menjadi perhatian khusus dalam kebijakan pembangunan kesehatan nasional.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu inisiatif yang dirancang untuk menjawab tantangan tersebut. Melalui program ini, pemerintah berupaya memastikan kelompok rentan mendapatkan asupan gizi yang cukup guna mendukung kesehatan ibu sekaligus tumbuh kembang anak sejak dini.
Untuk memastikan program berjalan sesuai tujuan, pemerintah melakukan pengawasan langsung di daerah. Selain memastikan distribusi berjalan lancar, pengawasan juga dilakukan untuk melihat kesiapan infrastruktur penyaluran makanan bergizi serta peran berbagai pihak yang terlibat dalam program tersebut.
Wihaji Tekankan Peran SPPG dalam Distribusi MBG
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menekankan pentingnya peran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk turut mengawal distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD (3B) pada kunjungannya di Pontianak, Kalimantan Barat, Sabtu, 7 Maret 2026.
Menurut Wihaji, program MBG 3B merupakan langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi kelompok rentan sekaligus mendukung tumbuh kembang generasi masa depan. Distribusi MBG harus dikawal dengan baik agar benar-benar sampai kepada penerima manfaat.
"Yang sudah berjalan harus terus kita kawal agar MBG 3B benar-benar sampai kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non PAUD sebagai penerima manfaat," ujar Wihaji dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Dalam pelaksanaannya, SPPG memiliki peran penting sebagai pihak yang memfasilitasi penyediaan dan penyaluran makanan bergizi kepada masyarakat sasaran. Keberadaan unit pelayanan ini menjadi salah satu elemen penting untuk memastikan kualitas serta kelancaran distribusi program.
Puluhan Dapur SPPG Dukung Penyaluran Program
Berdasarkan data koordinator wilayah SPPG Provinsi Kalimantan Barat, saat ini terdapat 60 dapur SPPG di Kota Pontianak yang telah memfasilitasi penyaluran MBG bagi sasaran 3B, dengan target penerima manfaat meliputi 1.910 ibu hamil, 3.718 ibu menyusui, dan 12.808 balita non PAUD.
Keberadaan dapur-dapur tersebut menjadi bagian penting dari sistem distribusi program MBG di daerah. Melalui dapur SPPG, proses penyediaan makanan bergizi dapat dilakukan secara terorganisir sehingga penyaluran kepada penerima manfaat dapat berjalan lebih efektif.
Dengan jumlah penerima manfaat yang cukup besar, pengelolaan dapur SPPG menjadi faktor krusial untuk memastikan kualitas makanan tetap terjaga serta distribusinya tepat waktu.
Pentingnya Sinergi Pemerintah Pusat dan Daerah
Ia juga menegaskan, keberhasilan pelaksanaan program MBG memerlukan sinergi kuat antara pemerintah pusat dan daerah agar program dapat berjalan efektif hingga tingkat keluarga di daerah.
"Program ini membutuhkan kerja sama antara kementerian di pusat dan pemerintah daerah. Kita harus saling mendukung dan memperkuat satu sama lain. Pemerintah daerah merupakan perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014," paparnya.
Kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah dinilai menjadi kunci dalam memastikan program dapat berjalan secara merata di seluruh wilayah. Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam mengawasi pelaksanaan program serta memastikan distribusi makanan bergizi benar-benar menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Selain itu, koordinasi yang baik juga memungkinkan evaluasi program dilakukan secara berkelanjutan sehingga berbagai kendala di lapangan dapat segera diatasi.
Program MBG 3B Disebut Satu-Satunya di Dunia
Wihaji juga kembali mengajak masyarakat Indonesia untuk mengapresiasi program peningkatan kualitas gizi nasional tersebut karena MBG untuk 3B merupakan satu-satunya yang ada di dunia.
“Setelah kita mendistribusikan MBG, harapannya anak-anak kita tumbuh lebih baik. Di dunia ini ada banyak program MBG, tetapi yang secara khusus menyasar 3B hanya ada di Indonesia," tuturnya.
Program ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek berupa pemenuhan kebutuhan gizi, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dengan asupan nutrisi yang cukup sejak masa kehamilan hingga usia balita, generasi masa depan diharapkan dapat tumbuh lebih sehat serta memiliki potensi perkembangan yang lebih optimal.
Pelaksanaan Program MBG di Pontianak Berjalan Baik
Sementara itu, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyampaikan, pelaksanaan program MBG di daerahnya sudah berjalan baik. Saat ini, Kota Pontianak telah memiliki 63 dapur yang melayani hampir 140 ribu porsi makanan setiap hari.
"Alhamdulillah saat ini sudah ada 63 dapur di Kota Pontianak yang melayani hampir 140 ribu porsi makanan setiap hari. Sementara ini yang kita pantau, Program MBG berjalan baik," ucap Edi.
Dengan dukungan infrastruktur dapur yang terus berkembang, pemerintah daerah berharap program MBG dapat terus berjalan secara optimal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Pelaksanaan program ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengelola program pemenuhan gizi masyarakat secara terintegrasi, sehingga upaya peningkatan kualitas kesehatan ibu dan anak di Indonesia dapat terus diperkuat.