Airlangga

Airlangga Soroti Antusias Masyarakat Terhadap Investasi Emas Melalui Bullion

Airlangga Soroti Antusias Masyarakat Terhadap Investasi Emas Melalui Bullion
Airlangga Soroti Antusias Masyarakat Terhadap Investasi Emas Melalui Bullion

JAKARTA - Perkembangan investasi emas di Indonesia menunjukkan tren yang semakin positif dalam beberapa waktu terakhir. 

Hal ini tercermin dari meningkatnya jumlah nasabah Bullion Bank yang tumbuh signifikan dalam kurun waktu sekitar satu tahun. Pemerintah menilai peningkatan tersebut sebagai sinyal kuat bahwa masyarakat semakin tertarik pada instrumen investasi berbasis emas.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan rasa bangganya terhadap pertumbuhan tersebut. 

Ia menilai peningkatan jumlah nasabah menjadi bukti bahwa kepercayaan masyarakat terhadap investasi emas terus meningkat. Kondisi ekonomi global yang tidak menentu juga membuat masyarakat mencari instrumen investasi yang lebih aman.

Perkembangan ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun ekosistem investasi emas nasional. 

Dengan dukungan berbagai lembaga keuangan, masyarakat kini semakin mudah mengakses produk investasi berbasis emas. Hal ini diharapkan dapat memperkuat sektor keuangan sekaligus meningkatkan literasi investasi di masyarakat.

Antusiasme Nasabah Terhadap Bullion Bank

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merasa bangga melihat perkembangan nasabah Bullion Bank yang naik signifikan sejak pertama kali diluncurkan tahun lalu. Peningkatan ini dianggap sebagai indikasi meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi emas. Selain itu, fenomena ini juga menunjukkan bahwa masyarakat mulai melihat emas sebagai pilihan investasi yang stabil.

"Tentu kita ingat pada tanggal 26 Februari yang lalu, Bapak Presiden meresmikan kegiatan usaha Bullion Bank atau Bank Emas Indonesia. Namun, waktu itu tantangan kita membuat roadmap-nya dulu atau jalan dulu," kata Menko Airlangga. Pernyataan tersebut menggambarkan proses awal pengembangan Bullion Bank di Indonesia.

Airlangga menjelaskan bahwa perjalanan pembentukan sistem ini tidak terjadi secara instan. Pemerintah harus menyusun berbagai tahapan pengembangan agar sistem dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu, roadmap pengembangan ekosistem bullion menjadi bagian penting dalam implementasinya.

Pertumbuhan Nasabah Dalam Satu Tahun

Ketika Bulion Bank pertama kali diluncurkan, jumlah nasabah tercatat sekitar 3,2 juta. Angka tersebut menjadi fondasi awal bagi perkembangan layanan investasi emas di Indonesia. Dalam waktu yang relatif singkat, jumlah tersebut mengalami peningkatan yang cukup pesat.

Kini, hanya dalam waktu setahun angkanya meningkat menjadi 5,7 juta nasabah. Pertumbuhan ini mencerminkan meningkatnya minat masyarakat terhadap layanan bullion. Kenaikan tersebut juga memperlihatkan bahwa masyarakat semakin percaya pada sistem investasi emas yang tersedia.

"Jadi, itu meningkat dengan cepat. Dan jumlah yang digadaikan di Pegadaian, nilai emasnya meningkat menjadi 144,7 ton dari 94 ton. Mereka yang sudah memanfaatkan itu menjadi pinjaman, itu juga naik sebesar 38,5 ton atau senilai Rp102 triliun," ujar Airlangga.

Emas Sebagai Investasi Safe Haven

Airlangga menjelaskan bahwa emas merupakan instrumen investasi safe haven yang banyak diminati masyarakat. Instrumen ini sering dipilih karena dinilai mampu menjaga nilai aset di tengah ketidakpastian ekonomi. Dalam berbagai kondisi ekonomi global, emas kerap dianggap sebagai aset yang relatif stabil.

Ia menambahkan bahwa dinamika geopolitik global turut memengaruhi pilihan investasi masyarakat. Ketika ketidakpastian meningkat, masyarakat cenderung mencari aset yang lebih aman. Dalam situasi seperti itu, emas menjadi salah satu pilihan utama.

Selain faktor global, peningkatan literasi keuangan juga berperan dalam pertumbuhan investasi emas. Masyarakat kini semakin memahami pentingnya diversifikasi investasi. Hal tersebut membuat emas menjadi bagian penting dalam perencanaan keuangan banyak orang.

Penguatan Ekosistem Investasi Emas

Airlangga juga menyoroti perkembangan literasi masyarakat terkait investasi emas. Menurutnya, pemahaman masyarakat terhadap investasi semakin meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini turut didukung oleh berbagai lembaga keuangan yang menyediakan akses investasi yang lebih mudah.

Ditambah Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI) semakin memudahkan masyarakat. Masyarakat bahkan bisa memecah emas dalam bentuk uang Rp100 ribu, Rp200 ribu, dan lainnya. Sistem ini memungkinkan masyarakat dengan modal kecil untuk tetap dapat berinvestasi emas.

"Penguatan ekosistem ini semakin lengkap dengan dibentuknya asosiasi, yaitu Indonesia Bullion Market Association. Sehingga, ini wadah koordinasi untuk industri emas dan mitra strategis pemerintah," sambungnya. Pembentukan asosiasi ini diharapkan mampu memperkuat koordinasi antar pelaku industri emas nasional.

Harapan Pengembangan Bullion Bank Ke Depan

Ke depan, Airlangga berharap tabungan haji juga dapat memanfaatkan investasi emas. Menurutnya, pengalaman selama ini menunjukkan bahwa subsidi untuk haji terus bertambah karena nilainya selalu bersaing terhadap mata uang dolar Amerika Serikat. Oleh karena itu, alternatif investasi seperti emas dapat dipertimbangkan.

"Namun kalau dengan emas, kita melihat emas pun terapresiasi sehingga apa yang ditabung hari ini sama akan diambil masa depan itu deltanya bisa memitigasi risiko," kata dia. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa emas dinilai mampu membantu mengurangi risiko nilai tukar di masa depan.

Airlangga menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendorong kemudahan usaha dalam sektor bullion. Pemerintah juga akan memantau kebijakan perpajakan yang berkaitan dengan sektor tersebut. 

"Dengan berbagai hal tersebut, sekali lagi Bullion emas yang sudah dirintis untuk dapat dimanfaatkan secara optimal yang berkelanjutan," tutupnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index